Pagi
hari saat weekend rasanya cukup nikmat apabila diisi dengan kehangatan
secangkir teh ataupun kopi, mungkin ditambah cookies rasa coklat atau kayu
manis
Sembari
merasakan kecupan sinar mentari pagi yang menembus ke tulang melalui ruang-ruang
pada kulitmu. Tapi jangan takut! Ya jangan takut kulitmu nan putih bak air susu
ibu akan menggelap, karena sinarnya baik untuk tulangmu. Ya, berguna agar membuat
mu lebih kokoh menjalani kehidupan!
Tapi
kali ini, di pagi hari ini, aku sedang tidak melakukan rutinitas sebagaimana aku
ceritakan di atas. Rutinitas siapa aku pun tak tahu, yang jelas memang bukan
rutinitasku. Hanya tipikal sebagian orang dalam mengawali hari
Dengan
layar laptop didepan mataku, ditemani sajak milik Kharisma P. Lanang berjudul “Percuma”.
Ku beritahu, begini isinya:
Kira-kira
Singkatnya
begini,
Kau
harus bahagia,
Meskipun
tidak harus denganku
Namun
kau juga harus mengerti,
Aku
benci kalimat ini.
Serta
alunan musik dari Banda Neira - Sampai Jadi Debu. Ah tunggu! Bukan aku bermaksud
sengaja menyetelnya, hanya saja aku mengaktifkan tombol shuffle. Bahkan lagu
tersebut tidak menggambarkan apapun bahkan hatiku pagi ini. Namun alunan dari
instrumennya cukup menenangkan
Tetapi
ada lagi, karena pagiku tidak segabut itu. Sembari mencari referensi untuk inspirasi
ku dalam mengerjakan UAS Sosiologi Lingkungan, hatiku, bahkan parahnya,
fikiranku kacau balau. Semua bersatu membentuk konstelasi. Oh, omong-omong soal
Sosiologi Lingkungan, perkenalan akan dimulai sebentar lagi. Aku memang mahasiswi jurusan sosiologi semester empat yang
sedang menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi di Kota Malang
Sembari
mengerjakan, hati dan fikiranku dipaksa untuk tegar, dipaksa untuk fokus oleh
aku. Mungkin ada satu elemen lagi yang mengendalikan diriku selain hati dan
otak. Yang jelas aku tidak tahu
Belum
selesai aku mencari referensi, otakku seketika beku dan sunyi. Tak ada yang
bekerja didalamnya. Sepertinya pada saat itu, semestapun berhenti sejenak
Sekelibat
kemudian.. Uhm maaf aku tak tahu apa itu ‘sekelibat’. Maklum aku ini penyair
(atau apapun itu) amatiran. Oke ku lanjutkan. Seketika semesta kembali berputar
begitupun otakku kembali bekerja dan rumit
Jemariku
mulai menekan tombol-tombol pada keyboard laptop dan membentuk tulisan ini yang
akupun tak tahu apa. Bahkan tak ada judul. Karena keabstrakannya yang tidak merepresentasikan
apapun.
a.n
20/05/18 11:42 a.m
Comments
Post a Comment