Tulisan ini dibuat dalam rangka merindu, dan aku yakin, akan terus ada tulisan-tulisan selanjutnya dalam rangka yang sama. Terbayang, kan? Akan ada berapa banyak tulisan. Jika setiap kali aku rindu, ku bayar dengan menulis. Berharap rindu ini sampai kepadamu. Ini adalah tulisan pertama tentang rinduku, tentang ketiadaan jarak yang memisahkan; bahkan kita dekat, amat sangat dekat. Tapi tak sekalipun aku utarakan. Karena sesunguhnya, kita bukan terpisah jarak, tapi ego. Yang egoku dan egomu tak lagi sejalan. Jadi, biar rindu ini ditulis.
Pagi hari saat weekend rasanya cukup nikmat apabila diisi dengan kehangatan secangkir teh ataupun kopi, mungkin ditambah cookies rasa coklat atau kayu manis Sembari merasakan kecupan sinar mentari pagi yang menembus ke tulang melalui ruang-ruang pada kulitmu. Tapi jangan takut! Ya jangan takut kulitmu nan putih bak air susu ibu akan menggelap, karena sinarnya baik untuk tulangmu. Ya, berguna agar membuat mu lebih kokoh menjalani kehidupan! Tapi kali ini, di pagi hari ini, aku sedang tidak melakukan rutinitas sebagaimana aku ceritakan di atas. Rutinitas siapa aku pun tak tahu, yang jelas memang bukan rutinitasku. Hanya tipikal sebagian orang dalam mengawali hari Dengan layar laptop didepan mataku, ditemani sajak milik Kharisma P. Lanang berjudul “Percuma”. Ku beritahu, begini isinya: Kira-kira Singkatnya begini, Kau harus bahagia, Meskipun tidak harus denganku Namun kau juga harus mengerti, Aku benci kalimat ini. Serta alunan musik dari Banda Neira - ...